Jumat, 02 Desember 2011

ATTRIBUTE PATTERN APPROACH DALAM KEPEMIMPINAN


Daya tarik kepemimpinan sebagai subyek penelitian dan berbagai konsep kepemimpinan yang berbeda telah menghasilkan literatur yang sangat luas bahasannya dan membinggungkan. Upaya untuk menyusun literatur berdasarkan pendekatan atau pandangan utama tidaklah terlalu berhasil. Satu dari cara yang lebih berguna untuk menggolongkan teori dan riset kepemimpinan adalah menurut jenis variable yang paling diberikan penekanan. Tiga jenis variable yang relevan untu memahami efektifitas kepemimpinan adalah:
  • Karakteristik Pemimpin
  • Karakteristik pengikut, dan
  • Karakteristik Situasi
Sebagian besar teori kepemimpinan lebih menekankan pada kategori tertentu sebagai dasar utama menjelaskan kepemimpinan yang efektif kebanyakan teori kepemimpinan yang dikembangkan pada setengah abad terakhir lebih menekankan pada karakteristik pemimpin, dan penekanan itu biasanya diterapkan untuk membatasi fokus hanya pada karakter kepemimpinan, yaitu ciri , perilaku, kekuasaan. Karenanya, akan bermanfaat jika menggolongkan teori dan penelitian empiris kedalam beberapa pendekatan berikut ini.
  • Pendekatan Sifat
  • Pendekatan Perilaku
  • Pendekatan Kontingensi
  • Pendekatan Terpadu
Pendekatan Dalam Kepemimpinan
À      Kaum behavioral memendang kepemimpinan dapat dilihat, yang berarti bahwa kepemimpinan dapat diperoleh, atau ditambah derajatnya.
À      Pendekatan traits, kepemimpinan itu ada dalam diri individu sejak lahir, kalau individu itu tidak dapat memimpin berarti memang tidak terlahir sebagai pemimpin dan tidak dapat diubah dan tidak bisa atau tidak terbuka kemungkinan untuk memiliki kepemimpinan.
Situasional memendang kepemimpinan berdasarkan dua aspek tersebut diatas.Sondan (1994) menyimpulkan hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila:
a)    Seseorang secara genetika telah mempunyai bakat kepemimpinan
b)    Bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya.
c)    Ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat teori kepemimpinan.
Untuk mempelajari kepemimpinan menggunakan tiga pendekatan. Pendekatan yang pertama menekankan bahwa Kepemimpinan itu tumbuh dari bakat, kedua kepemimpinan tumbuh dari perilaku, kedua pendekatan tersebut berasumsi bahwa seseorang yang memiliki bakat yang cocok atau memperlihatkan perilkuaan muncul sebagai pemain dalam situasi kelompok (organisasi) apapun yang ia masuki. Pendekatan sendiri bersandar pada pandangan situasi (situasioner perspektiv) pendekatan ini berasumsi bahwa kondisi yang menentukan efektifitas pemimpin. Efektifitas pemimpin bervareasi menurut situasi tugas yang harus diselesaikan, keterampilan dan pengharapan bawahan lingkungan organisasi dan pengalaman masa lalu pemimpin dan bawahan. Dalam situasi yang berbeda prestasi seorang pemimpin berbeda pula, mungkin lebih baik atau lebih buruk. Pendekatan ini memunculkan pendekatan kontigensi yang menentukan efektifitas situasi gaya pemimpin.
Pendekatan sifat-sifat kepemimpinan
Kelompok pertama yang bermaksud menjelaskan aspek kepemimpinan yaitu para teoritis kesifatan. Bahwa para pemimpin mempunyai sifat dan ciri tertentu. Untuk mengetahui karakteristik atau ciri pribadi, dari para pemimpin, para psikolog mengadakan penelitian. Mereka berpandangan bahwa pemimpin ini dilahirkan bukan dibuat. Secara alamiah pemimpin yang mempunyai sifat adalah orang yang lebih agresif lebih tegas, lebih pandai dalam berbicaradengan orang lain serta lebih mampu cepat dalam mengambil sebuah keputusan yang akurat. Pandangan ini mempunyai implikasi bahwa cirri kepemimpinan dapat dikenali. Maka organisasi akan jauh lebih canggih dalam memilih pemimpin. Hanya orang-orang yang memiliki Ciri-ciri kepemimpinan sajalah yang akan menjadi manajer, pejabat dan kedudukan lainnya yang tinggi.
Ukuran dalam cirri kepemimpinan mengunakan dua pendekatan:
  • Membandingkan bawahan dengan pemimpin
  • Membandingkan cirri pemimpin yang efektif dan yang tidak efektif.
  1. Macam-macam Pendekatan Kepemimpinan
  1. Pendekatan Sifat
Dalam pendekatan sifat timbul pemikiran bahwa pemimpin iti dilahirkan, pemimpin bukan dibuat. Pemikiran semacam itu dinamakan  pemikiran “Hereditary” (turun temurun). Pendekatan secara turun  temurun bahwa pemimpin dilahirkan bukan dibuat, pemimpin tidak dapat  memperoleh kemampuan dengan belajar/latihan tetapi dari menerima warisan, sehingga menjamin kepemimpinan dalam garis turun temurun  dilakukan antar anggota keluarga.
Dengan demikian kekuasaan dan  kesejahteraan dapat dilangsungkan pada generasi berikutnya yang termasuk dalam garis keturunan keluarga yang saat itu berkuasa. Kemudian timbul teori baru yaitu “Physical Characteristic Theory”  (teori dari Fisik). Kemudian timbul lagibahwa pemimpin itu dapat  diciptakan melalui latihan sehingga setiap orang mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin. Para ahli umumnya memiliki  pandangan perlunya seorang pemimpin mempunyai sifat-sifat yang baik. Pandangan semacam ini dinamakan pendekatan sifat. Adapun sifat-sifat yang baik yang harus dimiliki seorang pemimpin yaitu:
v  Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
v  Cakap, cerdik dan jujur
v  Sehat jasmani dan rohani
v  Tegas, berani, disiplin dan efisien
v  Bijaksana dan manusiawi
v  Berilmu
v  Bersemangat tinggi
v  Berjiwa matang dan berkemauan keras
v  Mempunyai motivasi kerja tinggi
v  Mampu berbuat adil
v  Mampu berbuat adil
v  Memiliki rasa tanggung jawab yang besar
v  Mendahulukan kepentingan orang lain.
  1. Pendekatan Perilaku
Pendekatan perilaku adalah keberhasilan dan kegagalan seorang pemimpin itu dilakukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemimpin yang  bersangkutan. Gaya bersikap dan bertindak akan tampak dari cara  memberi perintah, memberi tugas, cara berkomunikasi, cara membuat  keputusan, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara menegakkan  disiplin, cara pengawasan dan lain-lain. Bila dalam melakukan tindakan dengan cara lugas, keras, sepihak yang  penting tugas selesai dengan baik, dan yang bersalah langsung  dihukum, gaya kepemimpinan itu cenderung bergaya otoriter.
Sebaliknya jika dalam melakukan kegiatan  tersebut pemimpin dengan cara halus, simpatik, interaksi timbal balik, menghargai pendapat dan lain-lalin. Maka  gaya kepemimpinan ini bergaya kepemimpinan demokratis. Pandangan kllasik menganggap sikap pegawai itu pasif dalam arti enggan bekerja, malas, takut memikul tanggung jawab, bekerja berdasarkan perintah. Sebaliknya pandangan modern pegawai itu manusia yang memiliki perasaan, emosi, kehendak aktif dan tanggung jawab. Pandangan klasik menimbulkan gaya kepemimpinan otoriter sedangkan  pandangan modern menimbulkan gaya kepemimpinan demokratis. Dari  dua pandangan di atas menimbulkan gaya kepemimpinan yang berbeda.
  1. Pendekatan Kontingensi
Dalam pandangan ini dikenal dengan sebutan “One Best Way” (Satu yang terbaik), artinya untuk mengurus suatu organisasi dapat dilakukan dengan paralek tunggal untuk segala situasi. Padahal kenyataannya tiap-tiap organisasi memiliki cirri khusus bahkan organisasi yang sejenis akan menghadapi masalah berbeda lingkungan yang berbeda, pejabat dengan watak dan perilaku yang berbeda. Oleh karena itu tidak dapat dipimpin dengan perilaku tunggal  untuk segala situasi. Situasi yang berbeda harus dihadapi dengan perilaku kepepimpinan yang berbeda.
            Fromont E. Kast, mengatakan bahwa organisasi adalah suatu system yang terdiri dari sub sisteem dengan batas lingkungan supra system. Pandangan kontingensi menunjukkan pendekatan dalam organisasi adanya natar hubungan dalam sub  system yang terdiri daari sub sistem maupun organisasi dengan lingkungannya. Kontingensi berpandangan bahwa azas-azsa organisasi bersifat universal. Apabila dikaitkan dengan kepemimpinan maka dapat dikatakan bahwa tiap-tiap organisasi adalah unik dan tiap situsi harus dihadapi dengan gaya kepemimpinan tersendiri.
  1. Pendekatan Terpadu
Sersley dan Blanchard, memadukan berbagai teori kedalam pendekatan kepemimpinan situasional dengan maksud menunjukkan kesamaan dari pada perbedaan diantara teori-teori tersebut. Teori-teori yang dipadukan adalah:
v  Perpeduan antara teori motivasi jenjang kebutuhan teori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan kepemimpinan situasional.
v  Perpaduan teori motivasi 2 faktor teori tingkat kematangan bawahan, dengan pendekatan situasional.
v  Perpaduan antar 4 sistem manajemen, teori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan situasional.
v  Perpaduan antara teori x dan y, teori tingkat kematangan bawahan dengan kematangan situasional
v  Perpaduan antara pola perilaku A dan B, tori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan kepemimpinan situasional
v  Perpaduan antara 4 anggapan tentang orang, teori kematangan bawahan dengan kepemimpinan situasional
v  Perpaduan antara teori “Ego State”, teori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan kepemimpinan situasional
v  Perpaduan antara teori”Life Position” , teori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan kepemimpinan situasional
v  Perpaduan antara teori system control, teori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan kepemimpinan situasional.
v  Perpaduan antara teori dasar daya, teori tingkat kamatangan bawahan dengan pendekatan kepemikmpinan situasional.
v  Perpaduan antara teori “Parent effektiviness training”, teori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan kepemimpinan situasional
v  Perpaduan antara teori pertumbuhan organisasi dengan pendekatan kepemimpinan situasional.
v  Perpaduan antara teori proses pertumbuhan organisasi, teori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan kepemimpinan situasional.
v  Perpaduan antara teori siklus perubahan, teori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan kepemimpinan situasional.
v  Perpaduan antara teori modivikasi perilaku, teori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan kepemimpinan situasional
v  Perpaduan antara teori “Force field analysis”, teori tingkat kematangan bawahan dengan pendekatan kepemimpinan situasional.
  • Pendekatan Perilaku untuk Menjelaskan Kepemimpinan dalam Organisasi
Di dalam ilmu sosial, kepemimpinan mempunyai arti utama yaitu sebagia atribut suatu posisi, sebagai sifat seseorang dan sebagai kategori perilaku. Adapula yang menyebutkan kepemimpinan sebagai agen yang mempengaruhi dan orang-orang yang dipengaruhi, dalam hal ini tidak ada pemimpin tanpa pengikut. Dalam Handbook of Leadership yang ditulis Ralph M. Stogdill ditemukan beberapa definisi mengenai kepemimpinan. Salah satunya adalah kepemimpinan sebagai tindakan atau perilaku. Diambil dari konsep Shartle yang mendefinisikan suatu tindakan kepemimpinan   sebagai ”one which result in others acting or responding in a share direction.
Pada tahun 1950-an, para peneliti mulai memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada pada pendekatan sifat. Pada saat itu peneliti mulai memberikan perhatian lebih mendalam terhadap apa yang sebenarnya yang dilakukan pemimpin dalam pekerjaannya, dalam hal ini peneliti mempelajari perilaku para pemimpin. Gagasan penyelidikan kepemimpinan sebelumnya telah dimulai pada 1945 oleh Biro Urusan dan Penelitian Ohio State University, dengan mengadakan pencatatan-pencatatan mengenai berbagai dimensi perilaku pemimpin yang efektif, pola-pola kelakuan yang bagaimana yang ditampilkan oleh para pemimpin (Wahjosumidjo :1933).
Dan akhirnya dari berbagai macam pencatatan yang dilakukan diperoleh gambaran mengenai kelakuan pemimpin. Yaitu ada dua macam dimensi utama pemimpin yang dikenal dengan Konsiderasi (Consideration) dan Struktur Inisisasi (Initiation Structure). Penyelidikan tersebut dilakukan oelh Fleishman, Holpin dan Winer, Hemphill dan Coons pada tahun 1957.   Pengukuran efektifitas dilakukan dengan menguji bagaimana pemimpin menggunakan waktunya dan pola aktivitas, tanggung jawab dan fungsi spesifik (Milton :1981).
Pendekatan perilaku mempunyai fokus kajian pada dua hal. Pertama adalah fokus pada sifat dari pekerjaan manajerial (pemanfaatan waktu, kajian peran, fungsi dan tanggung jawab menajerial). Kedua, fokus pada keefektifan perilaku pemimpin itu sendiri. Di dalam pengelolaan organisasi, ada dua hal yang sangat menonjol. Yaitu pengelolaan organisasi dengan lebih mengutamakan aspek yang berhubungan dengan tugas, pekerjaan, produksi. Atau pengelolaan organisasi dengan lebih mengutamakan aspek yang berhubungan dengan antar orang, perasaan, kejiwaan, emosi, kebutuhan, kepercayaan, pergaulan, dan lain-lain.Pendekatan perilaku lahir berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemimpin yang bersangkutan. Gaya bersikap dan bertindak akan nampak dari cara melakukan sesuatu pekerjaan, antara lain akan nampak dari cara memberikan perintah, cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara membuat keputusan, cara menegur bawahan, dan lain-lain. Kepemimpinan menurut  Hemphill dan Coons (1957) adalah perilaku seorang individu yang memimpin aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal). Latar belakang itulah yang menjadikan pendekatan perilaku diperlukan untuk menjelaskan kepemimpinan di dalam organisasi.
À      Tangan Yang Melayani
Pemimpin yang melayani bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan metode kepemimpinan, tapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard disebutka perilaku seorang pemimpin, yaitu :
Ø  Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpin, tapi sungguh – sungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan firman Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya.
Ø  Pemimpin focus pada hal – hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tapi melayani sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.
Ø  Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek , baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dsb. Setiap harinya senantiasa menyelaraskan (recalibrating ) dirinya terhadap komitmen untuk melayani Tuhan dan sesame. Melalui solitude (keheningan), prayer (doa), dan scripture (membaca Firman Tuhan ).
Demikian kepemimpinan yang melayani menurut Ken Blanchard yang sangat relevan dengan situasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan menurut Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intelligence: SQ the Ultimate Intelligence, salah satu tolak ukur kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Luderman, menunjukkan pemimpin – pemimpin yang berhasil membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang memiliki SQ yang tinggi. Mereka biasanya adalah orang –orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.
  • Pendekatan Sistem Dalam Kepemimpinan
Realitasnya, seorang pemimpin yang baik dan handal harus memiliki kemampuan menggunakan kerangka pemikiran dan pendekatan sistem. Maksudnya, seorang pemimpin atau kepemimpinan memiliki kemampuan menggunakan kerangka pemikiran tertentu di dalam menghadapi kerumitan. Berkaitan dengan kerumitan, seringkali pemimpin dihadapkan dengan beberapa pilihan sebagai upaya memahaminya. Pertama, pemimpin membuat mental yang sangat sederhana tentang kerumitan tadi. Akibatnya mereka jatuh ke dalam simplisitas yang lewat batas dimana segala hal dilihat secara sangat sederhana.
Pilihan kedua adalah seorang pemimpin mencoba menangani kompleksitas dalam tugasnya dengan mengadakan percakapan ilmiah dan pendekatan interdisipliner. Ia ingin mendapatkan akurasi yang tinggi tentang apa yang dihadapinya sebelum ia mengambil keputusan-keputusan. Akibatnya, waktu dan enerji akan banyak dituangkan hanya untuk menjelaskan kompleksitas tadi dan berakhir dengan rasa tidak berdaya. Sedangkan ketiga adalah pemimpin menggunakan pendekatan sistem atau analisis dinamika sistem, suatu cara yang memberikan kejelasan namun merangkum semua faktor yang berperan dalam kerumitan yang ada.Jadi, sesuai dengan topik maka kita memilih pendekatan sistem atau kerangka pikir sistem. Suatu sistem adalah penggabungan dari berbagai komponen, atau kaitan-kaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya. Selanjutnya tiap kaitan akan menghasilkan suatu dinamika yang berbeda-beda. Seorang yang mempelajari sistem dinamika akan belajar mengenali struktur, pola-pola dan pengaruh dari kaitan-kaitan di dalam suatu sistem.
Menurut Robby I Chandra dalam bukunya "Bahan Bakar Pemimpin", seorang pemimpin yang mempelajari pendekatan dan kerangka pikir sistem, maka akan memiliki hal-hal seperti berikut :
·         Mampu menyadari bahwa ia memiliki kebebasan untuk bereksperimen dengan sistem karena tidak mungkin ia mampu membuat kendali dan pemetaan utuh dan menyeluruh tentang system.
·         Mampu membuat metafor, gambar, kiasan atau model mental dari hal rumit yang ia hadapi sehingga dapat menanganinya
·         Mampu menghasilkan pemikiran yang dapat menggambarkan struktur interrelasi dari komponen-komponen sistem tadi
·         Mampu membaca persepsi orang terhadap pengaruh-pengaruh yang ada atau komponen-komponen di atas
·         Mampu mengenali tujuan dan arah gerak dari sistem tadi
·         Mampu membaca dan memahami dinamika dari suatu proses misalnya, penundaan, feedback proses dan osilasi atau siklus
·         Mampu membuat pengendalian secara terbatas terhadap apa yang berlangsung sebagai suatu sistem.
·         Dengan demikian, pendekatan sistem merupakan pendekatan yang berdasarkan kerendahan hati, memaksa pemimpin menggunakan nalar dan intuisi, serta menggunakan bahasa metafor serta bahasa artistik dalam suatu dinamika.
·                     Pendekatan Berdasarkan Tingkah Laku
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para pakar psikologi industri tentang pendekatan berdasarkan tingkah laku pemimpin, ditemukan bahwa tingkah laku pemimpin dapat dibagi ke dalam gaya utama. Kedua gaya tersebut adalah sebagai berikut:
Ø  Berorientasi pada tugas
Disini, pemimpin menekankan pentingnya penyelesaian tugas dengan cara mengatur penugasan kerja, pengambilan keputusan dan penilaian hasil kerja. Pengawasan merupakan factor penting dalam gaya ini, oleh karena itu pengawasan dilakukan dengan ketat. Penggunaan kekuasaan lebih dipentingkan oleh sang pemimpin dengan menggunakan kekuasaan yang bersumber pada imbalan, paksaan dan keabahan dalam usahamempengaruhi tingkah laku dan hasil karya para anggotanya.
Ø  Berorientasi pada pengikut
indikasi orientasi ini antara lain sikap terbuka, ramah dari sang pemimpin serta usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan para anggota. Pemimpin yang bergaya dan orientasi demikian itu, berusaha mendelegaskan pengambilan keputusan, serta b erusaha membantu para anggota untuk memuaskan kebutuhan mereka dengan menciptakan iklim dan lingkungan yang supportif. Sumber kekuasaan yang banyak (sering) digunakan dalam orientasi ini, adalah sumber kekuasaan referent dan ahli atau axpert.
  1. Pendekatan Peningkatan Keefektifan Kepemimpinan
Strategi Peningkatan Keefektifan Kepemimpinan
Di  atas  telah  diuraikan  tentang  karakteristik  kepemimpinan  yang efektif dan kompetensi yang harus dimiliki oleh pemimpin untuk mencapai keefektifan.  Kemudian  timbul  pertanyaan,  bagaimana  seandainya  sebuah kepemimpinan  dinilai  tidak  mencapai  keefektifan?  Tannenbaum  dan Schmidt (1958) dalam Sofiati (1995) menyebutkan bahwa untuk mengatasi kemungkinan  munculnya  ketidakefektifan,  organisasi  perlu  menciptakan leadership  substitutes,  leadership  neutralizers,  dan  leadership enhancers. Esensi dari ketiga strategi tersebut adalah penciptaan karakteristik tertentu pada organisasi yang menyangkut  tugas dan bawahan/karyawan sebagai petunjuk  dalam  pelaksanaan  tugas.  Dengan  demikian  tugas  seorang pemimpin  dapat  digantikan  (leadership  substitutes).  Penciptaan  karakte-ristik  tertentu  yang  ditujukan  untuk  membantu  tugas  pemimpin  dalam meningkatkan  pengaruh  kepada  bawahan,  disebut  leadership  enhancers.
Esensi dari ketiga strategi tersebut adalah penciptaan karakteristik tertentu pada organisasi yang menyangkut  tugas dan bawahan/karyawan sebagai petunjuk  dalam  pelaksanaan  tugas.  Dengan  demikian  tugas  seorang pemimpin  dapat  digantikan  (leadership  substitutes).  Penciptaan  karakte-ristik  tertentu  yang  ditujukan  untuk  membantu  tugas  pemimpin  dalam meningkatkan  pengaruh  kepada  bawahan,  disebut  leadership  enhancers. Penciptaan  karakteristik  tertentu  yang  ditujukan  untuk  menetralisir  dan mengurangi  pengaruh  atasan  terhadap  bawahan,  disebut  leadership nautralizers.  Operasionalisasi  upaya  peningkatan  keefektifan  kepemimpi-nan,  organisasi  dapat mengadopsi  strategi yang disebut  “Creative Strate-gies for Improving Leadership Effectiveness".
Model Diagnosis Perilaku Organisasi
Organisasi  adalah  suatu  kesatuan  yang  dinamis  dan  memiliki karakteristik  sebagai  sistem  sosial  yang  terbuka.  Perilaku  organisasi  ada pada setiap  tingkat sistem  (individu, kelompok, dan organisasi) dan meru-pakan proses yang tidak pernah berhenti. Kepemimpinan yang efektif akan terjadi  jika  seorang  pemimpin mampu mendiagnosa  perilaku  anggota  or-ganisasi dalam sistem sosial yang kompleks. Agar dapat memahami peri-laku organisasi, pemimpin organisasi membutuhkan suatu model diagnosa perilaku organisasi. Untuk keperluan tersebut, Nadler dan Tushman dalam Kolb, et al.  (1998) menyodorkan sebuah model yang diberi nama “A Con-gruence Model for Diagnosing Organizational Behavior”. Untuk memahami apa  dan  bagaimana model  tersebut,  terlebih dahulu kita perlu melihat or-ganisasi  sebagai  suatu  sistem  terbuka  yang  memiliki  komponen  input, proses  transformasi,  dan  output.
Ada  tiga  kelompok  input  dalam  sistem tersebut, yaitu:  lingkungan, sumber daya, dan strategi. Proses  tranformasi dapat dipandang sebagai  interaksi antara empat komponen utama sistem organisasi, yang meliputi: tugas organisasi, individu yang ada dalam sistem organisasi, susunan organisasi, dan organisasi informal. Sedangkan output system merupakan hasil interaksi antar komponen input. Output utama dari sistem organisasi dapat berupa pengaruh individu dan perilaku serta fungsi sistem dalam pencapaian tujuan maupun adaptasi.
Model diagnosa perilaku organisasi yang dimaksud di sini memfo-kuskan  pada  ketergantungan  antar  komponen  dalam  sistem  organisasi. Organisasi  dibentuk  dari  komponen  atau  bagian  yang  saling  berinteaksi, dalam  kondisi  yang  relatif seimbang, konsisten, dan saling menyesuaikan diri dengan komponen lainnya. Model ini bisa menjadi kerangka kerja yang memberi  petunjuk  dalam  mendiagnosa,  megevaluasi  tindakan  alternatif, dan  memberikan  umpan  balik  bagi  hasil  tindakan  pemimpin. menyajikan  siklus  pemecahan masalah  dalam  sistem  organisasi.    Siklus pemecahan masalah meliputi  tiga  tahapan, meliputi:  1)  tahapan diagnosa (identifikasi  sistem, menentukan  sifat  variabel  kunci,  diagnosa  tingkat  ke-sesuaian  dan  hubungan  dengan  perilaku,  dan  identifikasi  problem  kritis sistem  organisasi),  2)  tahapan  penentuan  solusi  alternatif  dan  rencana tindakan  (mengembangkan  solusi  alternatif,  mengevaluasi  strategi  alter-natif,  dan  memilih  strategi  yang  akan  dimplementasikan),  3)  tahapan evaluasi dan umpan balik.
  1. Kerangka Perspektif Kepemimpinan
Arthur Jago (Liliweri, 2007:152) mengembangkan beberapa perspektif (sudut pandang) penting yang mengkaji konsp kepemimpinan, antara lain: 
1)    Perspektif berdasarkan focus pandangan, melihat perangai dan perilaku pimpinan, perspektif perangai selalu memandang kepempimpinan sebagai satuan karakteristik perangai yang relatif stabil yang dimiliki seorang pempimpin. Diyakini seorang pimpinan memiliki  karakteristik  – karakteristik perangai  internal tertentu yang menjadi syarat bagi dia untuk disebut  sebagai seorang pimpinan  yang efektif. Perspektif perilaku, memandang perilaku eksternal pimpinan, perilaku yang dapat diamati. Perspektif ini lebih mementingkan tindakan  eksternal seorang pemimpin  sebagai individu sekaligus menggambarkan karakteristik internal individu.
2)    Dimensi pola pendekatan,  hakikat kepemimpinan sebagai  perspektif universal, terletak pada pernyataan  bahwa ‘hanya ada satu jalan terbaik’ untuk mempimpin, bahwa kepemimpinan yang efektif  selalu dapat berperan  pada situasi dan kondisi  organisasi yang berbeda    beda. Kepemimpinan juga sangat bergantung pada  siatuasi dan kondisi yang memungkinkan seorang pemimpin atau sekolompok pemimpin  tampil dengan kepemimpinan tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam perspektif kepemimpinan, termasuk di dalam kepemimpinan di Hotel Emerald Garden Medan, sebagai penyedia jasa perhotelan, siatuasi dan kondisi kerja sangat dimungkinkan menjadi pertimbangan bagi para pimpinan untuk bertindak kepada karyawan dalam rangka mencapai pelaksanaan rencana kerja secara maksimal. Bila dimungkinakan tindakan represif juga menjadi bagian dari tugas pimpinan  dengan wewenang yang mereka miliki. Penghargaan terhadap kepemimpinan juga menjadi penting untuk diperhatikan dalam rangka membangun suasana kerja dan keadaan yang  stabil. Tidak hanya pimpinan yang harus memperhatikan karyawan, akan tetapi juga berlaku sebaliknya, para karyawan tetap  mempertimbangkan sisi psikososial pimpinan mereka dalam capaian kerja yang akan dituju.
Mengukur Tipe-Tipe Kepemimpinan
a)    Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memperhatikan tipe kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang karakteristik yang negatif. Dilihat dari presepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menonjolkan sikap yang menonjolkan keakuannya antaralain dalam bentuk:
1)    Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin,dan dengan demikian akan kurang menghargai harkat dan martabat mereka.
2)    Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para anggotanya (bawahanya).
3)    Pengabaian peran para bawahan dalam proses pengambilan keputusan
Gaya kepemimpinan yang Otokratik antara lain :
v  Menuntut ketaatan penuh dari para bawahan.
v  Dalam penegakkan disiplin menunjukkan keakuhannya.
v  Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi.
v  Mengadakan pendekatan premitif dalam hal terjadinya penyimpangan oleh bawahan.
b)    Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin yang paternalistik hanya terdapat dilingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya di masyarakat agraris. Salah satu cirri masyarakat tradisional adalah rasa hormat yang tinggi yang ditunjukan para anggota masyarakat atau orangtua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini kebanyakan sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tokoh-tokoh adat, para ulama dan guru. Pemimpin seperti ini mengembangka sikap kebersamaan.
c)    Tipe kharismatik
Karakteristik yang kas dari tipe ini yaitu daya tariknya yang sangat mengikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang kadang-kadang jumlahnya cukup besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seorang yang dikagumi banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara kongret mangapa orang tersebut dikagumi.
d)    Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancer dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang sudah mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak selalu sering intervensi.
Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah :
  • Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
  • Pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang nyata-nyata menuntut keterlibatanya langsung.
  • Status Quo organisasional tidak tergangu
  • Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berfikir dan bertindak yang inovatif diserahkan para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.
  • Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada tingkat yang minimum.
e)    Tipe Demokratik
Pemimpin yang demokratik biasanya memerlukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Seorang pemimpin demokratik disegani bukan ditakuti.
Metode baru dalam mengukur sifat dan karakteristik kepemimpinan telah dikembangkan beberapa waktu terakhir setelah review berpengaruh yang dilakukan oleh beberapa pakar kepemimpinan. Sebagai contoh, peningkatan penelitiiantentang kepemimpinan dengan menggunakan metode round robin dalam mendesain metodologi penelitian yang tepat.Para peneliti ini melihat bahwa aspek individu dapat muncul sebagai pemimpin di berbagai situasi dan kondisi dalammenjalankan tugas kepemimpinannya. Selain itu, selama tahun 1980-an peneliti statistik mutakhir diizinkan untukmelakukan meta-analisis, dimana mereka bisa secara kuantitatif menganalisis dan merangkum temuan dari beragamstudi tentang kepemimpinan.
Sifat ini memungkinkan munculnya teoretikus yang mampu menciptakan gambaran yangkomprehensif tentang kepemimpinan sebelumnya daripada penelitian kualitatif mengandalkan review dari masa lalu.Dilengkapi dengan metode baru, peneliti kepemimpinan ini mengungkapkan beberapa hal sebagai berikut. Individu dapat muncul sebagai pemimpin di berbagai situasi tugas, karena memiliki  hubungan signifikan dengan aspek kepemimpinan individu, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
- Memiliki kemampuan Intelijensi
- Mampu melakukan Penyesuaian 
- Mampu bekerja secara Extraversion
- Memiliki Kesadaran yang tinggi dengan tugasnya.
- Keterbukaan untuk mengalami setiap situasi.
- Memiliki efektivitas diri.
Teori tentang sifat kepemimpinan pasti kembali pada peningkatan kerangka kerja konseptual yang canggih Khusus, Zaccaro (2007) mencatat bahwa teori-teori sifat masih memiliki beberapa catatan penting sebagai berikut : Fokus pada sekelompok kecil atribut individu seperti Lima Besar ciri kepribadianyalni : kemampuan kognitif, motif, nilai-nilai,keterampilan sosial, keahlian, dan kemampuan memecahkan masalah.
1)    Gagal untuk mempertimbangkan pola-pola atau integrasi dari beberapa atribut.
2)    Tidak membedakan antara atribut pemimpin yang fleksibel dari waktu ke waktu dan yang dibentuk atau terkait oleh pengaruh situasional.
3)    Tidak mempertimbangkan bagaimana atribut pemimpin yang stabil, account, untuk keragaman perilaku yang diperlukan untuk kepemimpinan yang efektif
4)    Mengingat kritik terhadap teori sifat kepemimpinan yang telah diuraikan di atas, maka beberapa peneliti telah mulai mengadopsi perspektif yang berbeda-beda tentang individu, dan kepemimpinannya, sebagai atribut dalam mendekati dan mengenal pola pola kepemimpinan.
Berbeda dengan pendekatan tradisional, pemimpin dengan pendekatan pola modern didasarkan pada teori 'argumen bahwa pengaruh karakteristik individu pada hasil paling baik dipahami dengan mempertimbangkan pribadi sebagai totalitas terpadu daripada penjumlahan variabel individual.
Dengan kata lain, atribut pemimpin dalam pendekatan pola terpadu berpendapat bahwa konstelasi atau kombinasi dariperbedaan individual dapat menjelaskan varians substansial dari karakteristik tipe pemimpin ideal.
Perilaku Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah suatu  seni  (leadership in an art),  pemimpin profesional adalah seorang seniman dalam memimpin. Semakin terarmpil seorang pemimpin maka akan memudahkan dalam mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Robert L. Kantz  seperti yang dikutip dalam Danim (2004: 77)  mengatakan bahwa keterampilan berhubungan dengan perilaku dalam kepemimpinan, meliputi:
1)    keterampilan teknis  (technical skill),
2)    keterampilan hubungan manusia  (human relations skill),
3)    keterampilan konseptual (conceptual skill).
Faktor    faktor yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan dapat dilihat sebagai berikut, meliputi:
a)    Pendekatan perilaku membahas orientasi atau identifikasi pemimpin. Aspek pertama pendekatkan kepemimpinan menekankan pada fungsi – fungsi yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya. Agar kelompok berjalan efektif, seseorang harus menjalankan dua fungsi utama dalam kepempimpinannya:
v  fungsi – fungsi yang berhubungan dengan tugas (task related)  atau pemecahan masalah, dan;
v  fungsi    fungsi pemeliharaan kelompok  (group maintenance)  atau  social  (Handoko, 200: 299).
b)    Pandangan kedua tentang perilaku kepemimpinan memusatkan pada gaya pemimpin dalam hubungannya dengan bawahan.
v  gaya dengan orientasi tugas  (task oriented),  pimpinan mengawasi dan mengarahkan bawahan secara tertutup  untuk menjamin bahwa tugas yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang diinginkannnya;
v  orientasi karyawan  (employee oriented),  mencoba untuk lebih memotivasi karyawan dibanding mengawasi mereka.
Kompetensi Kepemimpinan
Untuk  menjadi  pemimpin  atau  disebut menjadi  orang  yang  berfungsi sepenuhnya, seorang pemimpin harus melewati 4  tingkatan seperti disinggung di atas (eksistensi empiris, kesadaran yang luas, semangat, dan eksistensi). Tingkatan tersebut bersifat hirarkis, setiap tingkatan yang lebih tinggi  mencakup  dan  memberi  arahan  tingkatan-tingkatan  sebelumnya. Pemimpin  yang  efektif  akan  selalu  berusaha  mengembangkan  diri  dan bergerak  mendaki  tangga  hirarki.  Pemimpin  tidak  punya  batas  untuk mendaki puncak.
Untuk mendaki tingkatan-tingkatan dalam tangga potensi manusia, seorang pemimpin harus memiliki kompetensi. Kompetensi adalah karakter mendasar yang harus dimiliki seseorang yang menyebabkan dia sanggup menunjukkan kinerja yang efektif atau superior di dalam suatu pekerjaan, atau  karakter  mendasar  yang  memberikan  kontribusi  terhadap  kinerja menonjol  dalam  suatu  pekerjaan  (Spencer  dan  Spencer:  1993). Menurut Hitt  (1993)  terdapat  25  kompetensi  penting  yang  harus  dimiliki  seorang pemimpin  yang  terangkum  dalam  5  dimensi,  yaitu:  reason,  sources  of power, knowledge, core leadership functions, dan character.
1)    Reason (Nalar)
Setiap pemikiran manusia dipenuhi oleh konsep dan  fakta. Nalar bisa mengkonsolidasikan  fakta  dan  konsep  yang  berlainan  menjadi  satu kesatuan yang bermakna. Nalar selalu mempertanyakan, menguji, dan menjawab  fakta.  Nalar menghubungkan  semua  orang  dan memung-kingkan  berhubungan  dengan  orang  lain  dengan  berbagai  budaya, bahasa,  yang  mungkin  bertentangan.  Perwujudan  nalar  meliputi:
  • ketrampilan konseptual, yaitu kemampuan untuk melakukan abstraksi dan  generalisasi,
  • pemikiran  logis,  yaitu  kemampuan menerapkan pendekatan  sistematis  dalam  pemecahan  masalah,
  • pemikiran kreatif,  yaitu  kemampuan  untuk  membawa  gagasan  menjadi  kenyataan,
  • pemikiran holistik, yaitu kemampuan mengangkat situasi total, dan
  • komunikasi,  yaitu  kemampuan  berdialog  dengan  orang  lain,
  • beradu  nalar  dengan  orang  lain  untuk mencari  kebenaran  yang  bisa diterima dua pihak.
2)    Sources of power (sumber kekuasaan)
Saat ini kekuasaan dianggap sesuatu yang penting dalam kepemimpi-nan yang efektif. Pemimpin yang efektif harus memiliki sumber-sumber kekuasaan yang utama, yaitu:
  • staf, yaitu tim yang terdiri orang-orang yang  punya  kesiapan,  bersedia  bekerja,  dan  memiliki  kemampuan melaksanakan  pekerjaan,
  • informasi,  yaitu  pengetahuan  yang  dibutuhkan  untuk  melakukan  pekerjaan,  dan
  • jaringan,  yaitu  kontak pribadi,  dengan  siapa  gagasan,  informasi maupun  sumber  daya bisa dibagi.
Handy  (1996)  menyebutkan  tiga  atribut  yang  perlu  dimiliki  oleh pemimpin  agar  ia  memperoleh  kekuasaan  dari  pengikutnya,  yaitu: memiliki  keyakinan  diri  yang  kuat  yang  diimbangi  dengan mempertanyakan  kembali  keyakinan  tersebut,  memiliki  kegairahan  terhadap pekerjaan yang diimbangi dengan kesadaran terhadap dunia lain, dan mencintai  orang  yang  diimbangi  dengan  keberanian  untuk  berjalan dalam  kesendirian.  Pemimpin  juga  harus  mendapat  kredibilitas  dan kepercayaan dari para bawahan (Chandra: 1997; Pradiansyah: 1997). Agar memperoleh  kredibilitas,  seorang  pemimpin  harus  jujur, melihat jauh ke depan, memberi inspirasi, dan cakap.
3)    Knowledge (pengetahuan)
Pemimpin  yang  efektif  harus  memiliki  pengetahuan.  Meskipun  tidak semua informasi bisa dikuasai, mereka harus bisa menyaring informasi yang  penting.  Pemimpin  yang  efektif  memiliki  5  karakteristik pengetahuan, meliputi:
  • mengetahui diri sendiri mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan secara aktif mencari umpan balik untuk pertumbuhan,
  • mengetahui pekerjaan memahami persyaratan kerja dan  bagaimana  pekerjaan  memberi  kontribusi  pada  organisasi,
  • mengetahui organisasi –memahami budaya organisasi dan bagaimana melakukan  segala  sesuatu  secara  efektif  dan  efisien,
  • mengetahui bisnis  yang  dimasuki memahami  lingkungan  eksternal  dengan  baik untuk mengetahui  kebutuhan  klien  dan  apa  yang  bernilai  bagi  klien, dan
  • mengetahui dunia memahami komunitas dunia dan bagaimana komunitas yang kecil berhubungan dengan yang besar.
4)    Core leadership function (fungsi kepemimpinan inti)
Pemimpin  yang  efektif  harus mampu mengangkat  nilai-nilai  pengikutnya dengan terus mendorong para pengikut untuk mendaki hirarki sehingga  muncul  “nilai  baru”.  Pemimpin  yang  efektif  melaksanakan  6 fungsi  inti,  yaitu:
·         menilai  –mengetahui  nilai-nilai  organisasi  dan mampu menterjemahkan nilai-nilai tersebut dalam praktek.
·         membuat memiliki  gambaran  mental  yang  jelas  tentang  masa  depan  yang dikehendaki organisasi,
·         memandu membantu orang lain mengembangkan  pengetahuan  dan  ketrampilan  yang  dibutuhkan  untuk mencapai  visi  tersebut,
·         memberdayakan membantu  orang  lain  bergerak mencapai misi tersebut,
·         membangun tim membangun koalisi dengan  orang  yang membangun  komitmen  pada  diri mereka  sendiri untuk mencapai visi tersebut, dan
·         mempromosikan kualitas mencapai reputasi untuk selalu memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
5)    Character (karakter)
Pemimpin yang baik harus memiliki 6 karakteristik berikut:
·         identitas mengetahui  dia  siapa  dan  dia  bukan  siapa,  memiliki  keutuhan  dan integrasi,
·         kemandirian menjadi orang yang bisa mengarahkan dirinya  sendiri.
·         Keaslian menunjukkan  jati  diri  yang  sesungguhnya pada orang  lain, mempertahankan kesesuaian antara nilai diri sendiri dengan nilai yang ada di luarnya,
·         tanggung jawab terhadap tindakan dan keputusan yang dilakukan.
·         keberanian untuk  terus melangkah meskipun  ada  hambatan,  dan
·         integritas  dipandu  oleh  sejumlah prinsip-prinsip moral  dan  diakui  oleh  orang  lain  sebagai  orang  yang berintegritas.
Di samping harus memiliki kompetensi di atas, pemimpin yang efektif bagi organisasi masa depan juga harus memiliki sejumlah ketrampilan khusus. White,  et  al.  (1997) menyebutkan  ketrampilan  khusus  yang harus  dimiliki meliputi:  difficult  learning, maximizing  energy,  resonant simplicity, multiple focus, dan mastering inner sense.
  1. Membangun Pola Kepemimpinan
Pada dasarnya bahwa permasalahan yang timbul menuntut peran kepemimpinan untuk memecahkannya dan bila kita kaitkan dengan periodesasi, maka kita dapat mengunmgkapkan pola kepmimpinan lama kedalam : Sebelum tahun 1970, sifat masalah yang dihadapi adalah normal dan sering dihadapi sehingga segera dapat diidentifikasi penyebabnya, yang kita sebut dengan masalah normal biasa artinya pemecahan dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya internal yang tersedia ; Memasuki tahun 1980 sifat masalah yang dihadapi adalah normal tidak biasa karena tidak sering terjadi dan tidak mudah begitu saja diidentifikasi sehingga tidak segera dapat dipecahkan, walaupun akhirnya dapat dipecahkan dengan kemampuan internal organisasi ; Setelah tahun 1990 dimana kepemimpinan menghadapi masalah tidak normal dan sering diketemukan dalam daur hidup organisasi yang kita sebut dengan masalah kompleksitas dengan tingkat keruwetannya yang tidak mudah dipecahkan ; Memasuki tahun 1997 dan menjelang tahun 2001, masalah tersebut berubah dari tingkatan keruwetan / kompleksitas menjadi apa yang disebut “penyakit” kedalam daur hidup organisasi.
Pola kepemimpinan lama, hanya menekankan kepada pemecahan masalah sehingga kepemimpinan masa itu memasuki tahun 2001 berdasarkan usaha-usaha dengan memasukkan kekuatan intervensi dari luar untuk ikut terlibat memecahkan masalah yang dihadapi, tapi kenyataan yang dihadapi oleh kepemimpinan pola lama hanya menambah masalah baru sehingga kepemimpinan masa kini telah menunjukkan kehilangan kepercayaan diri untuk memanfaatkan pemecahan masalah yang bersandar kepada kekuatan internal sendiri.
Dari pengalaman masa kini dimana kepemimpinan telah tumbuh dan berkembang dari pengalaman masa lalu, telah menunjukkan suatu pola kepemimpinan lama tidak mampu menjawab tantangan masa depan, oleh karena itu diperlukan kompetensi menciptakan masa depan dengan meletakkan landasan yang kuat dalam perannya untuk mengorganisir kedalam bentuk suatu organisasi yang bergerak cepat, fleksibel, mudah dikontrol dan melakukan perubahan-perubahan secara sistimatis, berencana dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan lingkunga.
Ø  Kepemimpinan Pola Baru
Membangun kepemimpinan pola baru diperlukan pemahaman suatu pendekatan yang kita sebut dengan pendekatan tiga dimensi peranan kepemimpinan masa depan. Tantangan yang dihadapinya harus memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, merumuskan dan memecahkan penyelesaian atas masalah normal dengan sifat masalah biasa dan masalah luar biasa dan masalah tidak normal dengan ifat masalah kompleksitas dan masalah penyakit.
Dengan memahami konsep peranan kepemimpinan pola baru dalam tiga dimensi diharapkan kepemimpinan anda mampu menuntun untuk mempengaruhi orang-orang dalam wujud kebersamaan untuk bersikap dan berperilaku. Jadi dalam kepemimpinan baru perlu menekankan tiga faktor yang sangat menentukan yang pertama disebut dengan “Wawasan” ; yang kedua disebut dengan “Penyelarasan” ; yang ketiga disebut dengan “Pemberdayaan”. Ketiga faktor itu membentuk kepemimpinan pola baru.
Wawasan merupakan langkah awal dalam peran kepemimpinan pola baru masa depan dalam menyeimbangkan perencanaan strategik (visi, msi, tjuan, sasaran, strategi) dengan pelaksanaan yang sejalan dengan budaya organisasi (nilai, norma, wewenang, ganjar), bila diperlukan diadakan penyesuaikan sesuai dengan tuntutan perubahan.Penyelarasan merupakan langkah kedua dalam peran kepemimpinan pola baru masa depan dengan mewujudkan kebersamaan dalam tindakan melalui keterikan dalam “sistem” (seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas), “struktur” (cara bagaimana sesuatu disusun atau dibangun) dan “proses” (rangkaian tindakan, pembuatan atau pengolahan yang mengasilkan sesuatu). Penyelarasan dalam sistem, struktur dan proses merupakan tonggak untuk membangun komitmen yang diberikan pegawai atas pengorbanan diri sendiri untuk melaksanakan kepemimpinan kolaboratif.
Pemberdayaan merupakan langkah ketiga yang sangat penting dan strategis dalam peran kpemimpinan untuk mempersatukan wujud kepentingan yang seimbang antara kepntingan individu, kelompok dan organisasi.sebagai daya dorong untuk memotivasi perubahan sikap melalui pemberdayaan bakat yang tersembunyi, peningkatan kecerdikan emosioal dan membangkitkan pikiran kreativitas. Dengan melaksanakan pemberdayaan tersebut diharapkan lahirnya komitmen dari diri sendiri untuk berperilaku dalam memenuhi kebutuhan bagi pihak-pihak yang berkepentingan sejalan dengan kemampuan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi informasi agar perubahan-perubahan dapat dilakukan.
Ø  Pola kepemimpinan Dalam Membentuk kinerja
Organisasi bergerak dinamis mengikuti perkembangan dunia sekitarnya, mengelola perubahan adalah hal yang sulit. Ukuran kapasitas kepemimpinan seseorang salah satu diantaranya adalah:
a)    Kemampuanya dalam mengelola perubahan
b)    Kemampuan ini penting sebab pada masa kini pemimpin, akan selalu dihadapkan pada perubahan-perubahan,
c)    Pemimpin ini dituntut untuk mampu menyesuaikan dengan perubahan lingkungan.
d)    Pemimpin yang kuat bahkan mampu mampu mempelopori perubahan lingkungan.
Ditengah-tengah dinamika organisasi (yang antaralain diindikasikan oleh adanya perilaku staf/ individu yang berbeda-beda), maka untuk mencapai efektifitas organisasi, penerapan keempat gaya kepemimpinan diatas perlu disesuaikan tuntutan keadaan inilah yang dimaksut dengan situational leadersip.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa untuk dapat mengembangkan gaya kepemimpinan situasional ini, seorang perlu memiliki tiga kemampuan khusus yakni:
a)    Kemampuan analitis yakni kemampuan untuk menilai tingkat pengalaman dan tingkat motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.
b)    Kemampuan untuk fleksibel yakni kemampuan untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang paling tepat berdasarkan analisa terhadap situasi.
c)    Kemampuan berkomunikasi, yakni kemampuan untuk menjelaskan kepada bawahan tentang perubahan gaya kepemimpinan yang anda terapkan.
Ketiga kemampuan diatas sangat dibutuhkan bagi seorang, sebab seorang pemimpin harus dapat menerapkan tiga peran utamanya yakni peran interpersonal, peran pengolah informasi, serta pengambilan keputusan.



Daftar Pustaka
Chandra, Aditiawan.  (1996),”Visionary Leadership: Gaya Kepemimpinan untuk Organisasi Masa Depan”. Usahawan, September, hal. 10-14.
Kartini Kartono, 1983, Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta : CV RAJAWALI
Sutarto, 1986, Dasar-dasar Kepemimpinan Administrasi, Yogyakarta  : Gajah Mada University Press .
Pendekatan Kepemimpinan Diperlukan Untuk Menjelaskan Kepemimpinan Dalam Organisasi, http://politikdemokrasi.blogspot.com/2011/04/pendekatan-perilaku-diperlukan-untuk.html, diakses 12 November 2011.
Pendekatan Dalam Kepemimpinan, http://task-rizkikhairisubhan.blogspot.com/,diakses diakses 12 November 2011.
Pendekatan Dalam Studi Kepemimpinan, http://www.slideshare.net/adilesmana1,diakses 12 November 2011
Pendekatan dalam kepemimpinan, http://id.shvoong.com/tags/pola-pendekatan-dalam-kepemimpinan, diakses 12 November 2011
Tipe Kepemimpinan, http://tasks-rizkikhairisubhan.blogspot.com/,diakses 12 November 2011.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar